Menjelang Senja


.

Menjelang senja
Burung-burung gereja beterbangan meramaikan langit
Dan aku masih mencoba menerjemahkan sandi yang kau tulis
Mensinkronkan dengan neuron-neuron di kepalaku

Menjelang senja
Aku ingin berjalan tanpa logika
Dan nyatanya belenggu egoisku masih terasa
Menjerat setiap detak arteri di tubuhku

Menjelang senja
Aku terdiam di beranda
Menatap sepasang impian yang mengalun tinggi
Terbang jauh
Melayang
Tak peduli gravitasi
Meninggalkan pemiliknya di sudut-sudut bumi
Menelan senja berangin matahari~

:11 Desember 2012, tujuh hari lagi

From Bogor with Flower~


.

Nadia
-Hari ini aku akan mengunjungi Andien dirumah sakit, Alhamdulillah operasi amandel nya berjalan lancar. Aku sudah membuat buket bunga anyelir merah muda yang kuambil dari kebun. Warnanya cantik sekali. Semoga hari ini cerah, dan Andien suka bunganya.

Adji
-Hari ini lumayan cerah, tapi agak mendung. Deadline pengumpulan fotonya lusa. Ku sempat-sempatkan saja hari ini untuk berkeliling Bogor. Mumpung tak ada jadwal dan semoga dapat view bagus ya.

Nadia
- kalau cuma 5 tangkai anyelir dan beberapa tangkai Iris Biru sepertinya kurang menarik. Akhirnya aku membeli 2 tangkai mawar plus 2 tangkai lili putih. Sekalian jalan-jalan ke Kebun Raya, siapa tahu dapat inspirasi. *smile*

Adji
- Ah, I'm not Lucky today. Mau ke Kebun Raya malah nabrak mbak-mbak, dan mood ku langsung hancur ketika melihat mbak itu menatap buket bunganya yang terlindas Trans Pakuan. Ekspresi nya dapet banget, tapi setega apa aku take photo ditengah tengah kesempitan gini. Gimana caranya ya untuk minta maaf ke mbak-mbak itu, dia kelihatan sedih banget. Kata maaf ga bakal cukup deh.

Nadia
- astaghfirullah, musibah. Buket bunga yang kurangkai cantik itu lenyap sudah. Seorang lelaki-sepertinya usianya tak beda jauh denganku- menabrakku dan membuat buketku terlempar terlindas Trans Pakuan, kalau gini mau bawa apa untuk Andien. Aku sudah bilang padanya kalau aku akan membawa bunga berwarna merah muda untuknya. Uh, mana mas mas itu langsung pergi gitu aja. Bete deh jadinya. Aku langsung pergi ke Kebun raya, mencari tempat yang pas untuk mengetik naskah ku, setelah dapat inspirasi dari kejadian ini.

Adji
-aku langsung lari ke tempat jual kembang, eh maksudku bunga. Niatnya sih mau gantiin bunga mbak-mbak tadi. Tapi ngomong-ngomong, tadi dia pergi kemana ya? Gara gara bawa kembang ups, bunga maksudnya, jadi banyak cewek-cewek lirik lirik centil gitu. Mungkin mereka kira aku romantis kali, padahal panik gini. Konsentrasi untuk nyari view pun buyar sudah.

Nadia
-Nah, ini tempat pas. Kukeluarkan laptop dan langsung mengetik apapun yang mengalir di otak. Sempet nangis dan sedih sih. Habis bunga anyelir dan iris nya itu kutanam sendiri di kebun dan merawatnya butuh perjuangan. Eh malah lenyap gitu aja.

Adji
-wah, beruntung. Aku langsung menemukan mbak-mbak yang tadi. Dia sendirian duduk di Kebun raya, sambil ngetik sesuatu di Laptopnya. Hmm, jadi bingung. Gimana caranya ngasih bunga ini ke dia tanpa diperhatikan sama pengunjung. Nanti dikira macem macem lagi.

Nadia
-tiba tiba ada tukang es krim lewat dijalanan ini, padahal kan sepanjang jalan yang duduk dikursi cuma aku. Aneh, eh dia berhenti didepanku. Apa ini, dia ngasih buket bunga dan es krim strawberry. Lalu dia pergi lagi ketempat yang ramai. Gak ngerti deh, ada apa sih. Setelah kulihat lagi, buket bunga nya mirip dengan buket yang terlindas tadi. Hanya tak ada lili putih saja. Hmm, terimakasih ya.

Adji
- dompetku langsung menipis, habis beli bunga trus nyuruh tukang eskrim tadi untuk ngasih bunga ke mbak itu. Tapi tadi sempet ku photo pas dia senyum nerima bunga dan eskrim dari si tukang es krim. Ah, dapet banget nih momentnya, kuputuskan untuk ngirim ke panitia lomba foto yang ini aja. Lelah, mending sekarang balik aja deh.

Nadia
-ternyata setelah kutanya ke tukang es krim yang tadi, buketnya dari mas mas yang nabrak aku tadi. Kupikir dia lupa dan gak peduli. Setelah dapet bunga langsung kepikiran Andien, akhirnya buru-buru ke RS sebelum jadwal besuknya habis. Andien seneng banget dapet bunga nya. Dan dia janji gak akan bolos lagi di tempat Les. Hmm, Andien semoga cepat pulih ya. Aku pun langsung pulang ke tempat kost dan mengetik lagi inspirasi yang kudapat hari ini. Sambil senyum tentunya.

Adji
- Mama nyuruh aku kerumah sakit, padahal bentar lagi nyampe rumah. Setibanya disana, Andien langsung riang dan memanggil namaku. Disana kulihat ada benda yang familiar. Buket Bunga.
Andien bilang tadi guru lesnya kesini dan ngasih bunga ini untuknya. Namanya Nadia, dan tiba tiba ada sesuatu yang aneh kurasakan di dadaku pas kulihat lagi buket bunga itu, lalu kubaca puisi yang ditulis Nadia


"Dear Andien,
Kehidupan akan terus menguji siapapun yang masih singgah.
Tak ada jalan lain, kecuali mengikutiNya.
Mengikuti cahaya .
Mengikuti jejak-jejak Cinta yang tersisa.
Mengikuti hati dan Fitrahnya.
Setiap senyum yang tersungging dari bibirmu,
Dapat merubah apapun dihadapanmu
Bersabar dan bersemangatlah ! :)
-Nadia- "

Kisah setangkai Bunga~


.

Di suatu fajar.

Setangkai bunga tersenyum padaku.
Getir.
Dari kelopaknya tercium harum putus asa.
Bunga itu mendongengkanku,
"Sekarang, aku tahu rasanya"
"Rasa menjadi sepi dan disingkirkan, diamuk badai kesendirian. Luka-lukaku tersiram lalu terbakar lalu tersiram lagi"

Lalu hening. Aku bertanya "tapi kau cantik dan elok.."
"Ya, sahabat sahabatku berkata seperti itu, aku tak pernah percaya ucapan mereka. Karena aku tahu, mereka hanya mengharapkan ketenaran ketika didekatku. Aku kecewa, sungguh kecewa"
Aku terdiam
"Cantik dan elok . Itu tak penting, aku mungkin bukan manusia tappi aku butuh ketulusan. Aku butuh ketulusan dan kepercayaan saat kemarau cahaya datang"
Aku berkata lagi " kau ingin sahabatmu kembali, bunga?"

"Ya, tentu saja. Tapi aku merasa tak pantas. Aku tahu semua ini karena kesalahanku. Sering aku menangis dibawah temaram purnama menyesalinya, dan aku terlalu takut untuk mencoba lagi" bunga itu menggugurkan kelopaknya sehelai demi sehelai
"Jangan putus asa, kau tak boleh membunuh impianmu"
Aku mencoba mencegahnya bunuh diri.
"Tidak, anak manusia. Kau tak tahu bagaimana rasanya. Cukup sudah. Aku ingin pergi menuju PenciptaKu, hanya ialah yang mengerti aku"

"Tapi.." Rintik hujan mulai turun
"Aku hanya butuh ketulusan.
Petik aku manusia, aku ingin tenang sekarang"

Dan Angin membawa pergi semua jejaknya, tak ada lagi bunga dihadapan, hanya tangkai layu di telapak tanganku.


"Tuhan, dimana kami bisa menemukan ketulusan, selain kepadaMu bersandar :')"

:ditulis dikelas, berteman keran bocor
afifah~

Aku Mencintaimu, Telak! By : Moammar Emka


.

Pernahkah kamu berpikir tentang jawaban?
Ah, ternyata yang namanya jawaban itu tidak selalu lugas dan tegas.
Kadang, hanya berbentuk tanda; diam dan hening. Seperti halnya tanya cintaku kepadamu.
Aku jatuh cinta kepadamu dengan telak. Kamu akan tahu kebenarannya, kelak.
Kelak, saat waktu berpihak kepadamu; menyuguhkan arti ketulusan cinta itu.
Terlambat atau tidak, aku tak tahu. Mungkin, aku bukan lagi orang yang sama saat kamu menyadarinya.
Tahu-tahu, kita terlambat untuk bersama atas nama cinta.
Maka, bacalah setiap tanda yang tercermin dari kata dan gerak tubuhku. Bahwa, dengan telak aku jatuh cinta kepadamu.
Dan, kamu tak lagi butuh kata “kelak” untuk menemukan jawaban itu; sebelum semua terlambat di lipatan waktu.

Teguran? Why not?


.

Berani ditegur itu baik !
*kok kaya slogan iklan deterjen*
What the reason ?
Apa alasannya?

Hmm apa ya, ini sih opini aja. Kalau lagi terjebak dlm Su'udzon biasanya cepet2 berdoa supaya 'ditegur' alias diingatkan oleh Allah melalui mata hati atau hidayah. Karena lama kelamaan, suudzon itu benar benar akan menginfeksi hati dan akibatnya hati kita akan mati rasa. Dan keluarlah bacotan ini itu mulai dari "kenapa sih.." , "andai aja dia.." , "dia kok gitu sih.." , "ish gak ngertiin banget deh.." (Curcol dikit :D) hemm, untuk sembuh setelah terinfeksi itu agak sulit, makanya kita berdo'a agar dijauhkan dari infeksi penyakit2 hati seperti itu. Nobody's Perfect !
Bersyukur dan Cobalah untuk terima apa adanya, dan cari kejelasan dari masalahmu. Allah punya rahasia untuk kebaikan kita, percayalah. Berdoa juga agar Allah tidak menegur kita dengan keras, seperti jika kita tertimpa musibah, kita baru sadar akan kesalahan kita. Intinya sih, Nethink-negative thinking- itu pasti pernah kita alami, dan setelah sadar kalau yg kita pikirkan itu nethink, cepat-cepatlah istighfar dan berdoa kepada Allah. Jangan sampai Allah menegur kita terlebih dahulu dengan hal hal yg tidak kita sukai. Naudzubillah min dzalik.

"Ya Allah, perbaharuilah iman yang ada didalam dada kami. Tetapkanlah hati kami dalam taat kepadamu. Tidak ada daya upaya kami kecuali dengan pertolonganMu"

:ditulis dibawah serangan badmood
afifah~


.

Barusan ada seorang teman yang ngasih kertas, isinya cuma coret-coretan, bahkan dilembar belakangnya ada kunci jawaban soal biologi :D

Ternyata, setelah kubaca
"Kenangan di SMA menurut orang-orang sangat tak terlupakan, sangat asik dan sangat sangat segalanya"

Tapi kenapa ku belum merasakan itu.
Anak-anak dikelas kompak nyanyi lagu Kerispatih, bikin semakin so sweet acara baca kertas ini.

"Tapi sekarang tinggal menghitung bulan kita semua sudah tak bersama sama lagi, bukan berarti silaturahim kita putus sampai disini"

Semakin banyak yang nyanyi. Maklum kebanyakan anak Paduan Suara di IPA 3.

"Tapi, inilah awal kehidupan yang baru buat kita"

Ya, benar. Ini merupakan bagian dari kisah hidup kita, yang harus dikenang :)


Itu sebagian isi kertas yang R****A kasih ke aku, duh kawan :')
Kapan-kapan ku posting foto kertas ini ya :)

afifah~

Pernahkah Kau tersesat?


.

Kubuka lagi peta yang kugenggam, kutengok sekeliling. Aku tak kenal tempat ini, tak satupun. Aku dimana? Semua orang terasa asing, dan aku tak kenal siapapun.

"Perhatikan baik-baik, dan kau akan temukan jalan keluar.." Sebuah suara terdengar, sayup dibalik pepohonan.
Aku terduduk lemas, menengadah langit, kembali menatap sekeliling. Peta yang kugenggam terjatuh, menggelinding jauh.
"Ini milikmu?" Ia menyodorkan peta kepadaku.
"Ya, kau siapa?"
"Tak perlu bertanya, kau tahu siapa aku lebih dari siapapun"
Ia pergi.
Dan aku kembali terduduk sepi. Sendiri.


~Igauan tidur siang